Headline News

Revitalisasi Kota Tua Jakarta: Antara Modernisasi dan Pelestarian Sejarah


JAKARTA, sensornews.id - Revitalisasi Kot6a Tua Jakarta, yang rampung pada tahun 2022, meninggalkan warisan ganda.  Di satu sisi, upaya penataan kawasan ini bertujuan menciptakan destinasi wisata global yang modern.  Namun, di sisi lain, perubahan signifikan seperti pengubahan jalan-jalan bersejarah—seperti Jalan Ketumbar, Jalan Poskota, Jalan Lada, Jalan Pintu Besar Utara, dan Jalan Kali Besar Timur—menjadi pedestrian menimbulkan kekhawatiran.  Warga Kota Tua, seperti Hari, yang telah lama mengenal jalan-jalan alternatif tersebut, merasa kehilangan identitas sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.  Hilangnya penanda nama jalan semakin memperparah situasi ini.

 

Ranto, seorang penggiat sejarah Kota Tua,  mengungkapkan sentimen serupa.  Dalam wawancara pada Minggu, 24 Juni 2025, di Jalan Lada Fatahillah, ia menekankan pentingnya menjaga identitas dan memori sejarah Kota Tua dalam konteks revitalisasi menuju "Kota Global dan Berbudaya" pada tahun 2029.  Ia mengingatkan bahwa Kota Tua merupakan miniatur Indonesia, simbol keberagaman etnis dan budaya yang telah terukir sejak era Jayakarta hingga Batavia.  Keberadaan berbagai komunitas etnis, seperti Tionghoa, India, Arab, Eropa, dan berbagai suku Indonesia, telah membentuk kekayaan sejarah yang tak ternilai.

 

Ranto berharap agar revitalisasi tidak hanya berfokus pada aspek estetika dan modernisasi, tetapi juga pada pelestarian sejarah dan budaya.  Ia mengimbau Kementerian Pariwisata, Sejarah dan Kebudayaan, serta Cagar Budaya untuk menjadikan gedung-gedung bersejarah sebagai pusat edukasi sejarah dan kearifan bangsa.  Pesan kuatnya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah untuk memastikan penataan kawasan cagar budaya dan wisata sejarah Kota Tua selaras dengan tema Hari Ulang Tahun Jakarta ke-498: "Kota Global dan Berbudaya".  Harapannya, revitalisasi tidak hanya sekadar mempercantik wajah Kota Tua, tetapi juga menghidupkan dan melestarikan jiwanya. (Fahri)