PWI Kota Tangerang Soroti Pernyataan Panitia Tangcity: Tidak Melarang, Tapi Wartawan Tak Diizinkan Meliput
SensorNews.id, Tangerang, Senin, 9 Maret, 2026. Polemik pelibatan media dalam kegiatan “1000 Keberkahan Ramadan: Mengukir Senyum di Bulan Penuh Berkah” di kawasan Tangcity Mall terus bergulir. Hal ini menyusul pernyataan panitia yang menyebut tidak ada pelarangan terhadap media, namun pada praktiknya wartawan yang tidak masuk dalam daftar undangan tetap tidak diizinkan melakukan peliputan.
Kegiatan santunan bagi 1.000 anak yatim yang digelar di Grand Ballroom Novotel Tangerang, Jumat (6/3/2026), sebelumnya diklarifikasi oleh pihak panitia sebagai acara swasta dengan mekanisme undangan terbatas. Perwakilan panitia, Iner, menyampaikan bahwa pembatasan media dilakukan karena keterbatasan kapasitas ruangan serta konsep acara yang telah dirancang sebelumnya. “Kami tidak melarang media untuk meliput. Namun memang jumlah undangan yang dapat kami akomodir terbatas. Sekitar 20 hingga 30 media sudah kami undang secara resmi sebelumnya,” ujar Iner.
Menurutnya, pembatasan tersebut merupakan pengaturan teknis kegiatan, bukan bentuk pembatasan terhadap kerja jurnalistik. Namun di lapangan, beberapa wartawan yang datang untuk meliput kegiatan tersebut tetap tidak diperkenankan masuk oleh panitia karena tidak termasuk dalam daftar media yang diundang. Kondisi ini mendapat sorotan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Tangerang. Ketua PWI Kota Tangerang, R Herwanto, menilai pernyataan panitia yang menyebut tidak ada pelarangan terhadap media perlu dilihat secara objektif dengan kondisi yang terjadi di lapangan.
“Kalau secara pernyataan disebut tidak melarang media, tetapi wartawan yang datang tidak diizinkan meliput karena tidak terdaftar dalam undangan, tentu ini menjadi catatan bagi kami,” ujar Herwanto, Minggu (8/3/2026). Menurutnya, pembatasan jumlah media memang dapat dipahami jika berkaitan dengan kapasitas ruangan. Namun ia menilai komunikasi kepada media seharusnya dilakukan secara lebih terbuka sejak awal agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. “Yang kami soroti bukan soal teknis acara, tetapi bagaimana keterbukaan terhadap media. Jangan sampai muncul kesan bahwa media dipilih-pilih,” tegasnya. (DOSNI)
Komentar