2029: Momentum Revolusi Kesadaran dan Perlawanan Terhadap Sistem yang Menyingkirkan Suara Rakyat
BEKASI, sensornews.id - Dalam artikel berjudul _"2029 Jalan Terjal Menuju Kedaulatan Rakyat, Pertarungan Oligarki dan Pemilik Kedaulatan"_, Ida NKusdianti, Sekjend FTA, menyerukan pentingnya kesadaran politik rakyat dan perlawanan terhadap sistem yang menyingkirkan suara dari bawah. Ia menyatakan bahwa selama satu dekade pemerintahan Jokowi, berbagai kebijakan dan regulasi disusun bukan atas dasar kehendak rakyat, melainkan demi kepentingan segelintir elite—oligarki, investor besar, dan jaringan kekuasaan yang tak terlihat.
Ida juga mempertanyakan apakah pemerintahan Prabowo Subianto akan berpihak pada rakyat atau melanjutkan warisan kekuasaan yang berpihak pada para pemilik modal dan kroni kekuasaan. Ia menekankan bahwa rakyat harus merebut kembali haknya yang telah dirampas dan bahwa 2029 harus menjadi titik balik bagi kebangkitan politik rakyat.
Dalam menuju Indonesia Berkah 2045, Ida menekankan pentingnya fokus pada pendidikan dan kesehatan, serta pemerintahan yang bersih dari korupsi dan berpijak pada nilai-nilai kejujuran dan keadilan. Ia juga menyerukan agar Indonesia menjadi negeri yang subur, makmur, dan selalu dalam naungan rahmat Allah SWT.
Kita harus sadar bahwa perjuangan ini tidak akan mudah, tetapi dengan kesadaran dan kesatuan rakyat, kita dapat mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, mari kita terus mengawal jalannya pemerintahan dan memastikan bahwa kepentingan rakyat tetap menjadi prioritas utama.
Dalam beberapa tahun mendatang, kita akan melihat apakah pemerintahan saat ini akan memenuhi janji-janjinya atau hanya menjadi bagian dari sistem yang sama. Kita harus tetap waspada dan terus mengkritisi kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.
Dengan demikian, kita dapat membangun Indonesia yang lebih baik, di mana rakyat menjadi subjek utama dan bukan hanya objek penderitaan dalam pertarungan kekuasaan. Mari kita bekerja sama untuk mencapai tujuan mulia ini dan menjadikan Indonesia sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (Fahri)